traveling, backpacking, living

Jumat, 17 Februari 2017

Menembus Bekunya Gulmarg dengan Skuter

Gulmarg! Sebuah tempat dengan pemandangan yang indah dan salju abadinya bercampur dengan hangatnya watak para Kashmiri (sebutan bagi orang-orang Kashmir)
Salju…! Itulah kata pertama yang ada dibenakku saat mendengar nama Gulmarg. Sebuah tempat dengan pemandangan yang indah dan salju abadinya bercampur dengan hangatnya watak para Kashmiri (sebutan bagi orang-orang Kashmir). Mengunjungi Gulmarg di musim dingin seperti ini bukan perkara mudah bagiku, orang Indonesia yang biasa hidup di iklim tropis. Terlebih hanya dengan mengendarai skuter matic.

Bahkan Shakeel, seorang warga lokal yang menemaniku sempat menyampaikan keraguannya. Lelaki dengan postur sedang dan pendiam inipun mempertanyakan ideku naik skuter miliknya dari kediamannya di Srinagar menuju Gulmarg. Terlalu dingin katanya, apalagi skuternya ber-CC kecil, sama persis dengan skuter di Jakarta, bisa-bisa mati beku di motor nanti. Hahaha… Tapi ini dia yang kucari, sebuah tantangan yang orang lokal pun ragu untuk mencobanya.

Tepat jam delapan pagi kami bangun, tanpa mandi karena suhu beku. Kami bergegas untuk sarapan, ternyata warung dan restoran belum pada buka sepagi itu di musim dingin. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan ditengah perjalanan saja. Informasi dari Shakeel menyebutkan ada warung untuk sarapan enak di pasar kecil di jalan menuju Gulmarg.

Tiga puluh menit menaiki sepeda motor, sampailah kami di warung itu. Kami pun memesan omelette dan roti chapatti yang ukurannya sebesar piring makan, lengkap dengan sambal khasnya dan chai. Sangat lezat! Terlebih harganya murah sekali.





Setelah terasa kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Gulmarg. Empat puluh lima menit berselang, perjalanan mulai melewati area gunung yang menanjak. Terjadilah apa yang ditakutkan Shakeel. Ya, kami sukses membeku diterpa angin di suhu minus! Dagu dan kaki kami sudah mati rasa, karena itu kami putuskan untuk menghangatkan badan sejenak di sebuah warung kecil sambil memesan kopi dan biskuit.


“Tuh beku, kan? ” Shakeel membuka suara sejenak setelah meminum kopinya.

“Hahah… Iya. Beku nih. Rahang masih gemetar,” jawabku di tengah gigi yang beradu menahan dingin. Aku tertawa. Dia pun balik menertawakanku.

Namun justru dengan itulah aku merasakan sensasi perjalanan yang luar biasa. Dan pada akhirnya, kami tetap saja memacu gas sepeda motor dengan kencangnya demi mencapai Gulmarg.

Dibalik perasaan kami yang teramat perkasa dan tidak ingin menyiutkan nyali di tengah kebekuan, ternyata ada kekonyolan dan kenekatan di mata orang lain. Bayangkan saja, tak satu pun selama perjalanan menuju Gulmarg kami menemukan orang mengendarai sepeda motor. Orangorang yang berpapasan dengan kami dengan mengendarai mobil, kulihat bengong melihat tingkah polah kami berdua. Hanya kami lah yang berani! Memang tipis perbedaan antara berani dan nekat itu, saudarasaudara. Hahaha…

Cuma dengan menaiki skuter inilah aku benar-benar menikmati perjalanan ke Gulmarg. Sangat terasa sekali petualangannya. Kami bisa berhenti di manapun, mengambil gambar hamparan padang rumput hijau, sawah berlatar pegunungan salju, serta menikmati pemandangannya yang sangat indah. Jujur, ini tak akan bisa kudapat kalau aku mengendarai mobil.

Sekitar dua jam setelah kami menempuh perjalanan menerobos dinginnya udara Kashmir, akhirnya kami berhasil mencapai Gulmarg. Kondisi badan kami bukan tambah membaik, melainkan sebaliknya. Suhu di daerah tinggi Gulmarg sangat rendah, membuat kami semakin terasa tersiksa.

Sesaat setelah memarkir sepeda motor, kami langsung pergi ke warung terdekat untuk memesan teh hangat sambil menempelkan badanku ke tempat memasak air. Fiuhhh… asli badanku sangat terasa beku. Proses memanaskan badan ini kulalui sembari bercengkrama dengan Shakeel, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Sudah saatnya aku naik keatas dan membeli tiket untuk menaiki Gondola tertinggi di dunia. Konter tiket tak berapa jauh, hanya berkisar perjalanan lima menit saja dengan jalan kaki. Dalam proses mendapatkan tiket ini semuanya berjalan lancar, terlebih keperluanku hanya untuk mencetak tiket saja, karena tiket sudah kubeli jauh-jauh hari dari Jakarta.

Untuk mencetak tiket Gondola tersebut aku dibantu oleh seorang penduduk lokal Gulmarg bernama Naseer. Bukan hanya itu, Naseer yang belakangan kuketahui sebagai mahasiswa program pasca sarjana ini pun akan menemani kami menaiki Gondola sebagai guide yang akan menjelaskan secara detil kondisi Gulmarg dan keindahan alamnya.

Naseer sendiri seperti kebanyakan Kashmiri umumnya, ramah, hangat diajak bicara, serta menyimpan kebaikan yang tulus dibalik paras mereka yang umumnya rupawan. Terlebih bila kita telah dianggapnya sebagai bagian dari saudara mereka, maka pelayanan terbaik pun akan diberikan secara cuma-cuma tentunya.

Sampai di fase satu, kami keluar dari dalam Gondola. Sungguh rasa takjub kembali membuncah dalam hatiku, menyaksikan segala keindahan yang tersaji di hadapanku. Hamparan gunung salju membentang. Memutih. Aku teramat menikmatinya sambil mendengarkan Naseer menjelaskan setiap sudut Gulmarg yang terhampar memikat. Meski warna putih salju begitu dominan, namun ada juga landscape padang rumput yang luas, pepohonan pinus yang tinggi, berbaris rapi memanjakan mata.


Pada fase satu ini aku tak hanya melihat pemandangan yang indah, namun juga berbagai aktivitas para pengunjung lainnya. Ada yang bermain ski di ujung sebelah kiri, ada yang bermain lempar salju. Sementara kami tetap berjalan hingga Naseer berhenti di sebuah mata air alami Himalaya. Ia mengatakan mata air ini mengeluarkan air yang tetap hangat meskipun suhu dalam kondisi minus. Ia mengajakku untuk minum langsung dari mata air tersebut. Masya Allah…. ternyata benar, airnya sangat segar dan hangat. Aku bahkan meminumnya sampai tiga kali.

Setelah menikmati hangatnya mata air alami, Naseer mengajakku untuk menyambangi sebuah warung. Kami memesan teh sembari menghangatkan badan dan berbicara menikmati pemandangan di fase satu sebelum melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya


Kami kembali ke stasiun Gondola supaya bisa melanjutkan perjalanan ke fase dua. Naseer mengatakan sebelumnya, bahwa di fase ini aku akan menemukan sebuah pemandangan yang teramat luar biasa. Pemandangan yang tersaji dari salah satu “Atap Dunia”, satu hal yang membuatku semakin tak sabar untuk menunggu.


Memasuki ketinggian 10.000 kaki aku merasakan oksigen mulai menipis. Aliran darah terasa seperti mengalir dari kepala ke kaki. Namun itu semua tergantikan dengan pemandangan yang luar biasa. Apalagi ketika Gondola berhenti di ketinggian 14.000 kaki. Puncak Apparwath namanya. Kami keluar dan hanya satu kata yang dapat kuucapkan, “Allahu Akbar!” Teriring segala puji atas pemandangan yang terbentang sangat indah di hadapanku kala itu. Keindahan yang mustahil diciptakan oleh tangan-tangan manusia. Sebuah keindahan yang membuatku semakin merasa kecil di hadapan Sang Pencipta




Aku benar-benar merasa berada di atap dunia. Awan-awan putih berarak di sekelilingku. Sungguh indah tak terbilang. Saking bahagianya menyaksikan keindahan dari Puncak Apparwath, aku sampai bergulingguling di atas salju, hingga lupa bahwa kondisi cuaca teramat dingin bagi tubuh tropisku.

Aku berikan handphone-ku kepada Naseer untuk mengabadikan kesempatan ini lewat video. Ya, aku hanya ingin menikmati pemandangan. Bukan bermain ski atau apapun. Namun demikian, di tengah segenap keindahan yang ada, justru aku banyak menyelipkan doa-doa. Untuk sebuah harapan bahwa suatu saat dapat kembali ke tanah ini bersama orang-orang yang kucintai, serta kembali bertemu dengan para Kashmiri yang luar biasa ini tentunya.

Waktu bergulir terlalu cepat rasanya ketika Naseer mengajakku kembali ke bawah. Tapi kupikir juga sudah cukup rasanya menikmati keindahan Gulmarg, apalagi melihat cuaca yang kembali tidak bersahabat.

Gondola yang kutumpangi berhenti di stasiun bawah. Aku melihat Shakeel sudah menunggu. Namun Naseer sepertinya masih ingin menunjukan sesuatu kepada kami. Ia pun mengajak kami mengelilingi golf course. Di sana pemandangannya juga tak kalah menarik. Di tengah-tengah padang golf itu nampak sebuah gereja tua yang konon sudah berumur 120 tahun. Meski hanya berbentuk sebuah rumah gubuk kayu kecil di tengah padang rumput yang luas, namun justru keberadaannya menggenapi eksotisme panorama yang ada.



Aku pun menyempatkan diri untuk berfoto. Tak lama kemudian, kami kembali ke tempat parkir sepeda motor. Kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore. Tibalah masaku berpamitan kepada Naseer. Lelaki luar biasa yang akan tetap kukenang. Seorang mahasiswa S2 yang mencari tambahan biaya kuliah dengan menjadi seorang tour guide. Luar biasa mulia usahanya!

Padanya aku berjanji untuk membantu lewat cerita yang aku tulis ini, aku berjanji akan mempromosikan Gulmarg dan dia kepada teman-temanku di Indonesia. Ia pun berjanji akan memberikan servis terbaiknya kalau bertemu dengan orang Indonesia di sana.

Ia mengatakan, bila suatu saat kelak aku kembali ke Kashmir dengan siapa saja, aku tak tak boleh bermalam di hotel, melainkan harus menginap dirumah nya. ia berjanji akan memasakkan menu spesial buatku, khusus. Sebuah masakan yang akan diracik dengan tangannya sendiri. Itulah ciri khas Kashmiri. Salah satu karakter terbaik yang selalu mendapatkan tempat di hati para pengunjungnya. Tentu saja, aku pun merindukannya…

Usai berpamitan, aku dan Shakeel mengisi perut di restoran terdekat. Kami mendapati menu chicken curry dengan porsi jumbo yang sangat lezat. Tentu saja, chicken curry di Kashmir ini mirip dengan gulai ayam di Jakarta, hanya saja kuahnya lebih kental dan bumbu rempahnya lebih terasa. Tanpa terasa porsi yang sedemikian besar itu kami libas habis tak tersisa!

Usai menyantap lezatnya chicken curry, jarum jam sudah menunjukan pukul setengah lima. Kami bergegas pulang. Sementara gerimis mulai turun diiringi suhu udara yang semakin merendah. Kami memacu sepeda motor menembus dingin yang semakin menyiksa tubuh kami. Sesekali kami mengambil waktu untuk berhenti sekedar untuk membeli jagung bakar atau minum teh demi menghangatkan badan. Hingga pada akhirnya sampai juga kami di rumah Shakeel di Srinagar.

Kebekuan yang kualami dalam perjalanan ke Gulmarg adalah hal yang tak ternilai dan tak terlupakan. Mau mencoba, sahabat? Aku jamin kamu bakal mendapatkan pengalaman yang hebat dan luar biasa at least once in a lifetime! See you soon, Gulmarg!

Sekembalinya dari Gulmarg, Shakeel memintaku untuk tidur di rumahnya dari pada tidur di hotel. Dengan senang hati aku menyetujui setelah kutanyakan bahwa ia tidak merasa direpotkan dengan keberadaanku.

Sekali lagi, itulah kebaikan ala Kashmiri. Aku sungguh terkesan dengan kehangatan keluarga Shakeel. Mereka menyambutku layaknya keluarga mereka sendiri. Sebuah sambutan yang kuharapkan bisa kudapat juga di tempat-tempat lain saat aku mengembara kelak. Semoga!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar