traveling, backpacking, living

Sabtu, 18 Februari 2017

“Drama”  Bollywood di Delhi


Untuk teman-teman nantinya yang ke India, kalau terjadi sebuah “drama Bollywood” yang merugikan kalian semua, jangan merasa segan, malu, atau takut untuk komplain dan menuntut hak kita.

 Yap, sepertinya kebanyakan orang di Delhi adalah bintang film Bollywood. Aku sebut ini karena kepiawaian mereka dalam berakting untuk melakukan penipuan. Nah, sekarang giliran aku terlibat suatu “drama” Bollywood di Bandara Delhi. Bandara yang tak lebih bagus bentuk dan fasilitasnya dibandingkan dengan Terminal 3, Bandara SoekarnoHatta, ditambah minimnya tempat nongkrong.

Drama ini terjadi saat aku mau check-in flight dari Delhi ke Kolkata. Batas waktu check-in masih 1 jam lagi, tapi kupikir langsung saja check-in supaya bisa bersantai di ruang tunggu. Toh cuma menunggu satu jam saja. Tak terlalu lama buatku.

Kudatangi counter Spice Jet dan bertanya ke petugas perempuan di sana untuk minta boarding pass. Setelah menunggu kurang lebih satu menit, si mbak dengan dandanan menor dan terlihat seperti tidak pernah senyum ini dengan juteknya berkata padaku.

  “Maaf, Pak. Penerbangan anda hari ini dibatalkan. Kalo bapak mau, kami bisa refund uang penuh ke credit card bapak dan bapak bisa cari flight lain di jam yang sama,” demikian katanya. Sekali lagi, tanpa senyum!

Seketika juga saya ngamuk. “What?! Enak saja kamu! Eh, aku ini beli tiket pake card temen aku, dan aku sekarang sudah tidak punya uang lagi untuk beli tiket via airlines lain. Aku pun di Kolkata hanya transit 2 jam, setelah itu aku langsung flight ke Kuala Lumpur dan langsung flight lagi ke Jakarta. Masa bodoh, aku tidak mau tau! Kamu urus masalah ini sampai selesai. Just get me in to another plane at the same time!!” kataku dengan raut muka yang kupasang sesangar mungkin.

Seketika itu juga suasana mendadak hening. Si mbak petugas Spice Jet di sana bengong mendengarkan ocehanku hahaha…

Para petugas Spice Jet seolah terkesima dengan kemarahanku. Sejenak mereka terdiam seperti di ruangan hampa udara. Bengong. Meski akhirnya satu suara memecah keheningan.

“Oke, Pak. Mohon tunggu 5 menit dan kami akan carikan penerbangan di jam yang sama untuk Anda.”

“Nah begitu dong,” pikirku dengan senyum sumringah.

Beberapa menit berlalu, akhirnya si mbak petugas Spice Jet tadi menghampiriku dengan selembar boarding pass dengan status check-in lengkap serta namaku tertulis di sana hahaha…. Akhirnya aku sukses menjadi “aktor Bollywood” di sini, pakai acting bentak-bentak pula. Puasss deh pokoknya.

Pesawatku diganti dengan maskapai IndiGo Airlines. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, akhirnya aku naik juga ke pesawat untuk mencapai Kolkata. Ternyata pesawat Indigo ini lebih bagus dari pada pesawat yang aku tumpangi kemarin. Pesawatnya on time, lebih bersih dan lebih lega ruang kakinya. Begitu juga mendarat pesawatnya lebih mulus… Nggak rugi deh naik pesawat ini.


Sesaat setelah mendarat dengan mulus di Bandara Netaji Subhas Chandra Bose, Kolkata, aku langsung makan malam di tempat yang sama saat waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini, di kafe pojok yang ada smoking room-nya.


Di kafe ini, menu chicken briyani-nya enak dan porsinya besar. Setelah merasa cukup kenyang, aku bersantai menunggu flight ke Kuala Lumpur. Secara badan sudah terasa capek dan perjalanan pulang masih panjang.


Untungnya, di bandara ini sampai aku check-in tak ada lagi “drama Bollywood” terjadi. Semua lancar jaya.

Untuk teman-teman nantinya yang ke India, kalau terjadi sebuah “drama Bollywood” yang merugikan kalian semua, jangan merasa segan, malu, atau takut untuk komplain dan menuntut hak kita. Karena di India, di balik keindahannya yang terkenal, banyak juga orang-orang yang berbuat tidak bertanggung jawab. Jangan ragu untuk melawan, pasti mereka dokem alias takut. Hehehe….Indonesia gitu lho!
Srinagar, I’m in Love

Semua orang memakai baju terusan seperti gamis besar bak jubah. Setelah aku bertanya-tanya, ternyata itu pakaian khas para Kashmiri saat musim dingin tiba. Fungsinya untuk mengusir rasa dingin yang berlebihan saat di luar rumah

Lima belas menit sebelum mendarat di Bandara Srinagar, kepalaku tak berpaling dari jendela pesawat. Kulihat pemandangan di bawah sana. Pegunungan, hamparan padang rumput, serta sungai yang mengular sejauh mata memandang semakin membuatku tak sabar untuk segera menjejakkan kaki di tanah yang disebut-sebut sebagai “Surga Dunia”.

Belum lagi hilang kekagumanku melihat pemandangan yang terhampar, awak kabin maskapai Spice Jet yang kutumpangi mengumumkan bahwa suhu di Bandara berada pada 5 derajat celcius. Aaah… senang sekali rasanya. Segera kunaikkan sandaran kursi dan berdoa agar pesawat mendarat dengan selamat.


Selepas pesawat mendarat dengan mulus, aku berjalan santai keluar Bandara yang tak begitu besar. Aku segera mengisi sebuah form arrival card yang diberikan pihak otoritas Bandara, lalu bergegas mencari loket taksi. Hal ini kulakukan dengan cepat. Aku khawatir akan lama mengantri karena banyaknya penumpang pesawat yang kembali setelah selesai menunaikan umroh.

Di pintu keluar bandara aku melihat ada yang aneh, kayaknya di sini semua orang memakai baju terusan seperti gamis besar bak jubah. Setelah aku bertanya-tanya, ternyata itu pakaian khas para Kashmiri saat musim dingin tiba. Fungsinya untuk mengusir rasa dingin yang berlebihan saat di luar rumah. Wah, aku harus membelinya untuk dibawa pulang nih, paling tidak satu buah... khas Kashmir gitu lho!

Di sini juga untuk pertama kalinya aku melihat perbedaan orang Kashmir dan India secara umum. Para Kashmiri (sebutan untuk penduduk Kashmir) rata-rata berkulit putih bersih dan tinggi. Wajahnya juga sekelas artis Jakarta semua hahaha... Sifat mereka juga baik, murah senyum dan ramah. Hal ini terbukti saat aku menanyakan letak loket taksi kepada seorang tentara di sana. Tentara itu tidak hanya menunjukan di mana letak loket, tetapi dia juga mengantarkan aku sampai tepat di depan loket taksi tersebut serta membantu memesan tiketnya. Wah, ini berbeda 180 derajat dengan orang-orang di Delhi atau di Kolkata yang ternyata lebih individualis.

Setelah membeli tiket, aku pun langsung menuju hotel tempat aku akan menginap. Di sepanjang perjalanan menuju hotel, masih terlihat jelas bekas banjir di mana-mana. Banjir ini kabarnya yang terbesar dan terparah di Kashmir selama 60 tahun terakhir. 

Akhirnya aku pun sampai di hotel tujuan dan langsung diantar ke kamar. Sesampainya di kamar, aku menaruh semua bawaanku dan kembali ke lobby untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Setelah bertanya kepada beberapa orang, ternyata malam itu tidak ada restoran yang buka. Hal ini dikarenakan malam itu adalah salah satu hari besar Islam. Wah, aku bisa mati kelaparan nih!
 Akhirnya aku memutuskan kembali ke hotel dari pada mati kelaparan di tengah suhu beku. Aku teringat di tas bawaanku ada bekal yang diberikan oleh mama sebelum berangkat ke India. Ternyata menunya adalah dendeng balado dan beberapa sachet mie gelas yang malam itu jadi penyelamat perutku. Aku pun dapat tidur dengan lelap dalam hangatnya electric blanket.

Pagi harinya, aku langsung mencari tempat untuk sarapan, dan tak ada satupun warung makanan yang buka sekitar hotel. Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan kaki ke area Danau Dal yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari hotel. Belum ada warung makan yang buka. 


Akhirnya aku menghampiri seorang bapak yang menjual cemilan, sambil berjalan mencari Pak Nizam. Beliau adalah seorang pemilik Shikara yang baik hati yang direferensikan oleh Om Yoli Hemdi untuk kutemui jika ingin bertanya tentang Kashmir. Pak Nizam juga akan memberikan tarif spesial untuk turis dari Indonesia yang ingin mengitari Danau Dal dengan Shikaranya. Ternyata setelah berkeliling selama hampir 5 jam aku tidak menemukan keberadaan Pak Nizam. Sampai akhirnya aku menunjukan foto Pak Nizam pada seorang tukang ojek yang mengaku mengenalnya dan bersedia mengantar aku ke tempat beliau tinggal. 
Aku pun sampai di rumah yang dituju, namun ternyata Pak Nizam tidak ada di rumah. Aku bertemu dengan adiknya yang bernama Shakeel. Setelah berkenalan, Shakeel pun mengajak aku masuk ke dalam rumahnya untuk menunggu Pak Nizam sambil menyuguhkan roti dan secangkir teh khas Kashmir. Setelah satu jam menunggu dan mengobrol dengan Shakeel, ternyata Pak Nizam tak juga kunjung datang. Akhirnya Shakeel memutuskan bersedia menemaniku mengililingi danau Dal dengan Shikara miliknya. Shakeel pun membawa peralatan Shikara dan tidak lupa sekotak pakaian Raja Kashmir zaman dahulu dan sebuah kamera untuk mengabadikan moment di tengah danau nanti.


Kami berangkat dan mengitari sudut Danau Dal yang tenang ditemani udara sejuk. Sangat indah dan nyaman rasanya berada di tengah danau ini. Tak lupa kami membeli beberapa cemilan dan minuman kaleng yang juga dijual di tengah danau. Dan setelah menemukan beberapa spot bagus, Shakeel pun memintaku untuk memakai pakaian raja yang tadi dibawanya dan bersiap untuk difoto. Wah, seperti Raja Kashmir beneran rasanya.

Setelah puas mengelilingi danau dan berfoto kami kembali ke Dal Gate untuk makan siang. Setidaknya kami tetap makan siang walau pun waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Kami pun segera mencari restoran bernama Rock View yang juga direferensikan oleh Om Yoli Hemdi karena masakannya yang enak, murah, dan pemiliknya yang sangat ramah. 

Setelah berjalan kaki 15 menit, kami sampai di restoran Rock View dan bertemu dengan pemiliknya yang bernama Shaabir. Ia langsung menyambut kami dengan hangat dan mempersilahkan duduk, serta langsung menghidangkan segelas Chai, teh susu khas Kashmir. Di sana kami makan kari kambing spesial dengan lahap. Setelah makanan habis, aku ditemani Shabir ngobrol dan bercerita tentang apa tujuan untuk besok. Akhirnya Shakeel mau menemaniku ke Gulmarg besok pagi.


Sekembalinya dari Gulmarg, Shakeel mengatakan bahwa aku lebih baik tidur di rumahnya dari pada di hotel, dan aku pun menerima dengan senang hati asalkan tidak merepotkannya. Shakeel senang sekali karena aku bersedia menginap di rumahnya. Kami pun berangkat ke rumah Shakeel untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik untuk perjalanan besok pagi ke Pahalgam. Benar saja, ternyata rumah Shakeel jauh lebih nyaman dan hangat, apalagi sambutan keluarganya yang sangat welcome padaku. 

Sekembalinya dari Pahalgam, kami singgah ke restoran Shabir untuk makan malam. Menu malam itu adalah gulai torpedo kambing yang sangat enak. Setelah beberapa lama mengobrol, Shabir mengajakku menginap di rumahnya serta menawarkan untuk mengelilingi Srinagar esok hari, memancing dan menginap di houseboat milik keluarganya. Gratis! What a lucky me!

Akhirnya kami menuju rumah Shabir dan aku berkenalan dengan anak, isteri, ayah, ibu, dan adiknya. Semua menyambutku dengan senyum hangat dan keceriaan. Tak terasa lama juga kami mengobrol dan bersenda gurau sambil tak henti-hentinya keluarga itu menyuguhkan makanan dan minuman yang lezat sampai hari larut malam. Aku dan Shabir pun beranjak ke lantai paling atas untuk tidur.


Pagi harinya kami bangun, langsung sarapan dan segera mengelilingi Srinagar dengan skuter milik Shabir. Ia mengajakku berkeliling mulai dari melihat bekas banjir besar, pasar tradisional yang membuat aku serasa kembali ke tahun 1930, dan juga mengunjungi Masjid Raya di sana. Baik sekali pria ini. Meluangkan waktunya untukku yang baru saja dikenal dan mengantar kesana kemari. Setelah puas mengitari berbagai sudut Srinagar, Shabir mengajakku untuk memancing di house boat. Sebelumnya, kami membeli 2 ekor ayam yang akan dimasak oleh mama mertuanya yang terkenal enak masak chicken curry-nya.






Alhasil, kami menunggu masakannya dengan memancing di pinggir houseboat. Sepertinya kami belum beruntung hari ini. Bahkan sampai makanan siap untuk disajikan, kami tak mendapat seekor ikan pun. Tapi semua itu tergantikan saat aku melahap chicken curry terenak yang pernah aku makan seumur hidupku. Saking enaknya aku sampai nambah dua kali tanpa rasa malu hahaha...

Di malam harinya, kami bercerita tentang hobi masing-masing, juga tentang Shabir dan temannya yang berkeinginan untuk mengunjungi Indonesia. Aku pun dengan bangga menceritakan keindahan Indonesia dengan kekayaan alam dan budayanya. Mereka sangat tertarik untuk datang dan berjanji akan menghubungiku jika datang ke Indonesia. Anyway... time to sleep in houseboat.


Bangun di pagi hari yang beku, aku membuka pintu depan houseboat. Ahhh.... kuhirup udara segar ini walaupun dingin. Shabir dan temannya belum juga bangun, aku pun membangunkannya dan pamit ke rumah Shakeel karena ada janji untuk membeli beberapa pashmina buat mamaku sebelum kembali ke Delhi.


Aku ingin membelinya langsung di tempat mereka membuat, bukan di toko-toko komersil. Tentu saja dengan kualitas lebih bagus dan harga lebih murah. Shabir dan temannya mengizinkanku untuk pergi. Menyeberang ke sisi danau Dal lainnya, aku pun menemui Shakeel yang sudah siap dengan sampannya. Kami langsung menuju tempat pengrajin pashmina yang juga teman baik Shakeel.

Setelah tiga puluh menit mendayung sampan, akhirnya kami sampai di tempat pengrajin dan disambut hangat, disuguhkan teh khas Kashmir dan selimut. Wah... semua orang di sini baik sekali. Sambil minum teh, mereka memperlihatkan beberapa jenis pashmina dari yang paling murah sampai yang paling mahal, tentunya dengan kualitas terbaik yang mereka miliki. Pengrajin tersebut dengan sabar memberikan informasi kepadaku tentang semua jenis pashmina. Di sinilah perbedaan antara penjual pashmina di Kashmir dengan kota lainnya. Di tempat lain, mereka membuat kita “terpaksa” membeli pashmina, serta tidak ada jaminan, apakah pashmina itu asli atau palsu. Sedangkan di Kashmir mereka dengan senang hati menginformasikan kepada kita, terlepas dari kita akan membeli atau tidak.


Di sinilah aku mendapat masalah, sudah hampir satu jam aku memilih pashmina sambil BBM-an dengan mama dan tanteku, belum juga ada keputusan pashmina yang akan dipilih. Apalagi sinyal HP pun hilang timbul disini.



Pengrajin ini melihat masalah yang aku hadapi, dan dengan spontan ia mengatakan, “Kamu pilih saja yang mama dan tantemu mau, terserah bawa aja 10 atau 20 buah, nanti sampai Jakarta saja kamu kirim uangnya.”

Spontan aku jawab, “Wah jangan Pak, aku tidak punya uang sebanyak itu, trus bagaimana kalau nanti aku kabur?”

Pengrajin itu hanya tersenyum dan menjawab, “Aku percaya sama kamu, kalau kamu membawa kabur 20 buah pashminaku, Allah akan ganti dengan 2000 buah pashmina.”

Sejenak aku terdiam. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang ini, baik sekali seperti malaikat. Bagaimana bisa mereka punya cara berpikir seperti itu. Atau mungkin otakku terkontaminasi kehidupan Jakarta yang semrawut. Akhirnya mama dan tanteku memutuskan membeli beberapa potong pashmina dan aku segera membayarnya karena waktu sudah jam enam sore.

Sebelum aku naik ke sampan bersama Shakeel, sang pengrajin memanggilku lagi dan berkata, “Hey, you! Do you like this colour?” dengan menunjukkan sepotong pashmina bercorak abu-abu coklat.

“That’s the nice one.”

“So this one is a gift for you, next time bring your family here and we’ll have a good time again,” sambung sang pengrajin.

“I would, Sir!” jawabku.

Sampai malam di rumah Shakeel, aku langsung packing karena besok akan kembali ke Delhi. Setelah packing, rasanya backpack-ku seperti hampir meletus karena banyaknya titipan. Kami pergi makan malam untuk terakhir kalinya di restoran milik Shabir. Kami makan dengan lahap. Aku berpamitan dengan semua teman dan keluarga yang sudah menerima aku dengan baik selama di Kashmir. Ada perasaan haru meninggalkan tanah ini. Terlebih besok pagi jam 8 aku akan naik bus ke Delhi.

“I will miss you all!” kataku kepada mereka semua.

Kami pun kembali ke rumah Shakeel untuk istirahat, karena besok akan menempuh perjalanan panjang dan medan yang cukup berat. Good night Shakeel...

Selepas bangun di pagi hari, Shakeel mengantarkanku ke samping J&K BANK. Disana bus yang akan aku naiki sudah bersiap. Shakeel pun langsung memastikan tempat dudukku dan meminta nomor handphone sang pengemudi untuk memastikan bahwa aku aman sepanjang perjalanan. Dan tibalah saat keberangkatan. Aku pun berpamitan dengan Shakeel.


“Thanks a lot for all of this, my good friend. I hope that I will be able to come back here soon and have a good time with you again.”

“Me too. And safe flight to Jakarta,” katanya.

Oh my God... ”Srinagar I’m in Love.”

Jumat, 17 Februari 2017

Menembus Bekunya Gulmarg dengan Skuter

Gulmarg! Sebuah tempat dengan pemandangan yang indah dan salju abadinya bercampur dengan hangatnya watak para Kashmiri (sebutan bagi orang-orang Kashmir)
Salju…! Itulah kata pertama yang ada dibenakku saat mendengar nama Gulmarg. Sebuah tempat dengan pemandangan yang indah dan salju abadinya bercampur dengan hangatnya watak para Kashmiri (sebutan bagi orang-orang Kashmir). Mengunjungi Gulmarg di musim dingin seperti ini bukan perkara mudah bagiku, orang Indonesia yang biasa hidup di iklim tropis. Terlebih hanya dengan mengendarai skuter matic.

Bahkan Shakeel, seorang warga lokal yang menemaniku sempat menyampaikan keraguannya. Lelaki dengan postur sedang dan pendiam inipun mempertanyakan ideku naik skuter miliknya dari kediamannya di Srinagar menuju Gulmarg. Terlalu dingin katanya, apalagi skuternya ber-CC kecil, sama persis dengan skuter di Jakarta, bisa-bisa mati beku di motor nanti. Hahaha… Tapi ini dia yang kucari, sebuah tantangan yang orang lokal pun ragu untuk mencobanya.

Tepat jam delapan pagi kami bangun, tanpa mandi karena suhu beku. Kami bergegas untuk sarapan, ternyata warung dan restoran belum pada buka sepagi itu di musim dingin. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan ditengah perjalanan saja. Informasi dari Shakeel menyebutkan ada warung untuk sarapan enak di pasar kecil di jalan menuju Gulmarg.

Tiga puluh menit menaiki sepeda motor, sampailah kami di warung itu. Kami pun memesan omelette dan roti chapatti yang ukurannya sebesar piring makan, lengkap dengan sambal khasnya dan chai. Sangat lezat! Terlebih harganya murah sekali.





Setelah terasa kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Gulmarg. Empat puluh lima menit berselang, perjalanan mulai melewati area gunung yang menanjak. Terjadilah apa yang ditakutkan Shakeel. Ya, kami sukses membeku diterpa angin di suhu minus! Dagu dan kaki kami sudah mati rasa, karena itu kami putuskan untuk menghangatkan badan sejenak di sebuah warung kecil sambil memesan kopi dan biskuit.


“Tuh beku, kan? ” Shakeel membuka suara sejenak setelah meminum kopinya.

“Hahah… Iya. Beku nih. Rahang masih gemetar,” jawabku di tengah gigi yang beradu menahan dingin. Aku tertawa. Dia pun balik menertawakanku.

Namun justru dengan itulah aku merasakan sensasi perjalanan yang luar biasa. Dan pada akhirnya, kami tetap saja memacu gas sepeda motor dengan kencangnya demi mencapai Gulmarg.

Dibalik perasaan kami yang teramat perkasa dan tidak ingin menyiutkan nyali di tengah kebekuan, ternyata ada kekonyolan dan kenekatan di mata orang lain. Bayangkan saja, tak satu pun selama perjalanan menuju Gulmarg kami menemukan orang mengendarai sepeda motor. Orangorang yang berpapasan dengan kami dengan mengendarai mobil, kulihat bengong melihat tingkah polah kami berdua. Hanya kami lah yang berani! Memang tipis perbedaan antara berani dan nekat itu, saudarasaudara. Hahaha…

Cuma dengan menaiki skuter inilah aku benar-benar menikmati perjalanan ke Gulmarg. Sangat terasa sekali petualangannya. Kami bisa berhenti di manapun, mengambil gambar hamparan padang rumput hijau, sawah berlatar pegunungan salju, serta menikmati pemandangannya yang sangat indah. Jujur, ini tak akan bisa kudapat kalau aku mengendarai mobil.

Sekitar dua jam setelah kami menempuh perjalanan menerobos dinginnya udara Kashmir, akhirnya kami berhasil mencapai Gulmarg. Kondisi badan kami bukan tambah membaik, melainkan sebaliknya. Suhu di daerah tinggi Gulmarg sangat rendah, membuat kami semakin terasa tersiksa.

Sesaat setelah memarkir sepeda motor, kami langsung pergi ke warung terdekat untuk memesan teh hangat sambil menempelkan badanku ke tempat memasak air. Fiuhhh… asli badanku sangat terasa beku. Proses memanaskan badan ini kulalui sembari bercengkrama dengan Shakeel, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Sudah saatnya aku naik keatas dan membeli tiket untuk menaiki Gondola tertinggi di dunia. Konter tiket tak berapa jauh, hanya berkisar perjalanan lima menit saja dengan jalan kaki. Dalam proses mendapatkan tiket ini semuanya berjalan lancar, terlebih keperluanku hanya untuk mencetak tiket saja, karena tiket sudah kubeli jauh-jauh hari dari Jakarta.

Untuk mencetak tiket Gondola tersebut aku dibantu oleh seorang penduduk lokal Gulmarg bernama Naseer. Bukan hanya itu, Naseer yang belakangan kuketahui sebagai mahasiswa program pasca sarjana ini pun akan menemani kami menaiki Gondola sebagai guide yang akan menjelaskan secara detil kondisi Gulmarg dan keindahan alamnya.

Naseer sendiri seperti kebanyakan Kashmiri umumnya, ramah, hangat diajak bicara, serta menyimpan kebaikan yang tulus dibalik paras mereka yang umumnya rupawan. Terlebih bila kita telah dianggapnya sebagai bagian dari saudara mereka, maka pelayanan terbaik pun akan diberikan secara cuma-cuma tentunya.

Sampai di fase satu, kami keluar dari dalam Gondola. Sungguh rasa takjub kembali membuncah dalam hatiku, menyaksikan segala keindahan yang tersaji di hadapanku. Hamparan gunung salju membentang. Memutih. Aku teramat menikmatinya sambil mendengarkan Naseer menjelaskan setiap sudut Gulmarg yang terhampar memikat. Meski warna putih salju begitu dominan, namun ada juga landscape padang rumput yang luas, pepohonan pinus yang tinggi, berbaris rapi memanjakan mata.


Pada fase satu ini aku tak hanya melihat pemandangan yang indah, namun juga berbagai aktivitas para pengunjung lainnya. Ada yang bermain ski di ujung sebelah kiri, ada yang bermain lempar salju. Sementara kami tetap berjalan hingga Naseer berhenti di sebuah mata air alami Himalaya. Ia mengatakan mata air ini mengeluarkan air yang tetap hangat meskipun suhu dalam kondisi minus. Ia mengajakku untuk minum langsung dari mata air tersebut. Masya Allah…. ternyata benar, airnya sangat segar dan hangat. Aku bahkan meminumnya sampai tiga kali.

Setelah menikmati hangatnya mata air alami, Naseer mengajakku untuk menyambangi sebuah warung. Kami memesan teh sembari menghangatkan badan dan berbicara menikmati pemandangan di fase satu sebelum melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya


Kami kembali ke stasiun Gondola supaya bisa melanjutkan perjalanan ke fase dua. Naseer mengatakan sebelumnya, bahwa di fase ini aku akan menemukan sebuah pemandangan yang teramat luar biasa. Pemandangan yang tersaji dari salah satu “Atap Dunia”, satu hal yang membuatku semakin tak sabar untuk menunggu.


Memasuki ketinggian 10.000 kaki aku merasakan oksigen mulai menipis. Aliran darah terasa seperti mengalir dari kepala ke kaki. Namun itu semua tergantikan dengan pemandangan yang luar biasa. Apalagi ketika Gondola berhenti di ketinggian 14.000 kaki. Puncak Apparwath namanya. Kami keluar dan hanya satu kata yang dapat kuucapkan, “Allahu Akbar!” Teriring segala puji atas pemandangan yang terbentang sangat indah di hadapanku kala itu. Keindahan yang mustahil diciptakan oleh tangan-tangan manusia. Sebuah keindahan yang membuatku semakin merasa kecil di hadapan Sang Pencipta




Aku benar-benar merasa berada di atap dunia. Awan-awan putih berarak di sekelilingku. Sungguh indah tak terbilang. Saking bahagianya menyaksikan keindahan dari Puncak Apparwath, aku sampai bergulingguling di atas salju, hingga lupa bahwa kondisi cuaca teramat dingin bagi tubuh tropisku.

Aku berikan handphone-ku kepada Naseer untuk mengabadikan kesempatan ini lewat video. Ya, aku hanya ingin menikmati pemandangan. Bukan bermain ski atau apapun. Namun demikian, di tengah segenap keindahan yang ada, justru aku banyak menyelipkan doa-doa. Untuk sebuah harapan bahwa suatu saat dapat kembali ke tanah ini bersama orang-orang yang kucintai, serta kembali bertemu dengan para Kashmiri yang luar biasa ini tentunya.

Waktu bergulir terlalu cepat rasanya ketika Naseer mengajakku kembali ke bawah. Tapi kupikir juga sudah cukup rasanya menikmati keindahan Gulmarg, apalagi melihat cuaca yang kembali tidak bersahabat.

Gondola yang kutumpangi berhenti di stasiun bawah. Aku melihat Shakeel sudah menunggu. Namun Naseer sepertinya masih ingin menunjukan sesuatu kepada kami. Ia pun mengajak kami mengelilingi golf course. Di sana pemandangannya juga tak kalah menarik. Di tengah-tengah padang golf itu nampak sebuah gereja tua yang konon sudah berumur 120 tahun. Meski hanya berbentuk sebuah rumah gubuk kayu kecil di tengah padang rumput yang luas, namun justru keberadaannya menggenapi eksotisme panorama yang ada.



Aku pun menyempatkan diri untuk berfoto. Tak lama kemudian, kami kembali ke tempat parkir sepeda motor. Kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore. Tibalah masaku berpamitan kepada Naseer. Lelaki luar biasa yang akan tetap kukenang. Seorang mahasiswa S2 yang mencari tambahan biaya kuliah dengan menjadi seorang tour guide. Luar biasa mulia usahanya!

Padanya aku berjanji untuk membantu lewat cerita yang aku tulis ini, aku berjanji akan mempromosikan Gulmarg dan dia kepada teman-temanku di Indonesia. Ia pun berjanji akan memberikan servis terbaiknya kalau bertemu dengan orang Indonesia di sana.

Ia mengatakan, bila suatu saat kelak aku kembali ke Kashmir dengan siapa saja, aku tak tak boleh bermalam di hotel, melainkan harus menginap dirumah nya. ia berjanji akan memasakkan menu spesial buatku, khusus. Sebuah masakan yang akan diracik dengan tangannya sendiri. Itulah ciri khas Kashmiri. Salah satu karakter terbaik yang selalu mendapatkan tempat di hati para pengunjungnya. Tentu saja, aku pun merindukannya…

Usai berpamitan, aku dan Shakeel mengisi perut di restoran terdekat. Kami mendapati menu chicken curry dengan porsi jumbo yang sangat lezat. Tentu saja, chicken curry di Kashmir ini mirip dengan gulai ayam di Jakarta, hanya saja kuahnya lebih kental dan bumbu rempahnya lebih terasa. Tanpa terasa porsi yang sedemikian besar itu kami libas habis tak tersisa!

Usai menyantap lezatnya chicken curry, jarum jam sudah menunjukan pukul setengah lima. Kami bergegas pulang. Sementara gerimis mulai turun diiringi suhu udara yang semakin merendah. Kami memacu sepeda motor menembus dingin yang semakin menyiksa tubuh kami. Sesekali kami mengambil waktu untuk berhenti sekedar untuk membeli jagung bakar atau minum teh demi menghangatkan badan. Hingga pada akhirnya sampai juga kami di rumah Shakeel di Srinagar.

Kebekuan yang kualami dalam perjalanan ke Gulmarg adalah hal yang tak ternilai dan tak terlupakan. Mau mencoba, sahabat? Aku jamin kamu bakal mendapatkan pengalaman yang hebat dan luar biasa at least once in a lifetime! See you soon, Gulmarg!

Sekembalinya dari Gulmarg, Shakeel memintaku untuk tidur di rumahnya dari pada tidur di hotel. Dengan senang hati aku menyetujui setelah kutanyakan bahwa ia tidak merasa direpotkan dengan keberadaanku.

Sekali lagi, itulah kebaikan ala Kashmiri. Aku sungguh terkesan dengan kehangatan keluarga Shakeel. Mereka menyambutku layaknya keluarga mereka sendiri. Sebuah sambutan yang kuharapkan bisa kudapat juga di tempat-tempat lain saat aku mengembara kelak. Semoga!



          Bertemu  “Malaikat”  di Pahalgam

Aku merasakan kebahagiaan yang meluap. Lagi-lagi bertemu dengan malaikat penolong di Kashmir. Aku melihat pemilik warung kopi itu memasak dua tusuk sate kambing, lengkap dengan bumbunya yang wangi. Tak lupa ia pun membuat roti chapatti untukku

Setelah membeku di Gulmarg, aku berpikir untuk naik Jeep saja ke Pahalgam. Jaraknya sejauh sembilan puluh kilometer dari rumah Shakeel di Srinagar, berarti dua jam lebih perjalanan yang akan kutempuh. Setidaknya ini solusi terbaik buatku demi menghindari kedinginan yang berat selama perjalanan. Apalagi jika hujan turun seperti kemarin, wah, bisa beku seperti balok es nanti.

Dan, kami akhirnya memutuskan untuk naik Jeep. Sepanjang perjalanan yang tak kurang dari 2 jam, mata kami dimanjakan dengan pemandangan yang begitu indah. Warna-warni pepohonan yang asri, sawah, sungai, serta perbukitan berhias putih salju membuatku tak merasa bosan sama sekali melakukan perjalanan ini.

 Selain melewati panorama yang indah, perjalanan kami pun melewati pasar dan terminal yang menimbulkan kemacetan. Kondisi jalan yang tidak begitu lebar sesak dipenuhi para pejalan kaki. Mereka umumnya hanya akan menyingkir setelah mobil, sepeda motor, serta kendaraan lain jaraknya sudah sangat dekat dengan mereka. Itu pun perlu ditambah dengan suara klakson yang membuat telinga terasa sakit, namun itulah Kashmir. Tapi toh kemacetan di Kashmir tetap saja bisa dinikmati seiring dengan para gadis berparas cantik yang berlalu-lalang. Meski tentu saja, untuk menikmati paras cantik mereka hanya dilakukan dengan mencuricuri pandang.

Waktu telah menunjukan jam 3 sore ketika kami sampai di Pahalgam, rencana untuk menikmati keindahan Pahalgam pun terancam gagal karena saat itu hujan turun dengan lebatnya. Hingga Shakeel menyarankan untuk menginap semalam di sekitar Pahalgam. Hal ini dikarenakan tidak mungkin naik kuda ke bukit Pahalgam saat cuaca hujan. Kalaupun ingin kembali lagi ke Srinagar, angkutan umum pun sudah tidak ada pada sore hari.

Shakeel mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kenalan baik yang mempunyai vila di dekat Pahalgam Valley. Kami pun langsung berjalan kaki menuju vila tersebut. Nafasku menderu ketika kaki bekerja lebih keras di medan yang menanjak, belum lagi hujan masih deras, membuat langkah kaki kami yang melewati sungai dan perbukitan untuk mencapai vila tidaklah mudah.

Setelah tiga puluh menit berjalan kaki, kami sampai di vila tersebut. Shakeel masuk dan bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan temannya. Jawaban Sang resepsionis sangat mengejutkanku, ia mengatakan bahwa temannya Shakeel sedang keluar. Vila ini pun ditutup selama musim dingin karena ada beberapa saluran air yang pecah, serta karenatidak ada turis yang ke sana selama musim dingin.

Duh, kebingungan tiba-tiba melandaku. Terjebak di daerah antah-berantah dengan suhu beku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi akhirnya Shakeel meminta resepsionis untuk menelpon temannya dan mengatakan bahwa kami menunggunya di vila. And God bless me… teman Shakeel mengatakan akan datang secepatnya.

Menunggu kedatangan teman Shakeel selama tiga puluh menit di suhu beku dan tanpa penghangat memang sangat menyiksa. Hingga kami pun memutuskan pergi ke warung kopi di sebelah vila untuk sekadar menghangatkan badan.

Sialnya, warung sebelah pun ikutan tutup dengan alasan yang sama, “Sedang musim dingin, Mas!” Bersyukur pemilik warung kopi ini bisa kuajak mengobrol.

“Kamu dari mana?” tanyanya.

“Dari Indonesia,” jawabku.

“Oh, negara muslim terbesar di dunia ya?”

“Iya,” aku menjawab sambil kedinginan.

“Kalau begitu kamu duduk saja disini dulu. Saya mau bikin sate kambing. Nanti kamu coba dulu, kalo enak silakan beli. Saya masakin deh khusus buat kamu,” ungkapnya membuatku sangat senang.
Aku merasakan kebahagiaan yang meluap. Lagi-lagi bertemu dengan malaikat penolong di Kashmir. Aku melihat pemilik warung kopi itu memasak dua tusuk sate kambing, lengkap dengan bumbunya yang wangi. Tak lupa ia pun membuat roti chapatti untukku.

Wah, makan sate kambing dan roti chapatti ternyata enak sekali. Terlebih di saat udara dingin yang menusuk seperti ini. Kurang dari dua menit kuhabiskan sudah dua tusuk sate tadi. Bahkan saking enaknya aku pun meminta tambah 10 tusuk lagi. Aku makan seperti orang kalap saja saking enaknya.



Sambil makan aku ngobrol dengan pemilik warung kopi satu ini. Aku ucapkan terima kasih atas kesediaannya memasak khusus buatku dan Shakeel, menemani bercengkrama, bahkan memberikan pemanas sehingga kami tak begitu kedinginan.Aku berjanji pada pemilik warung kopi itu bahwa akan mempromosikan nama warungnya ke teman-teman di Indonesia. Siapa tahu suatu saat kelak ada yang mau berangkat ke Pahalgam.

Oh ya, cobalah untuk makan atau sekedar minum kopi di sana, sudah murah, enak, orangnya baik banget. Apalagi manu sate kambingnya itu maknyuss… juara! Tak lupa, aku pun mengambil beberapa gambar warung serta banner-nya. Semoga bila suatu hari kembali ke Pahalgam, aku masih menemukan orang dan warung yang sama.



Di tengah menyantap lezatnya sate kambing, akhirnya orang yang kami tunggu datang juga. Dialah temannya Shakeel. Sejenak setelah kami berkenalan, aku mulai merasakan keakraban dengannya. Seperti orang Kashmir pada umumnya, ia begitu hangat dan bersahabat. Dan tentu saja, dibalik ciri fisiknya yang tinggi besar serta berjambang lebat bahkan terkesan sangar, para Kashmiri adalah orang-orang murah senyum dengan keramahan serta kebaikan nomor wahid di dunia menurutku.

Setelah selesai makan, kami bertiga pamit menuju ke vilanya. Ia mengatakan akan menyiapkan satu kamar bagus untuk kami. Lagi-lagi rasa syukurku membuncah bisa bertemu “malaikat penolong” di sini.

Benar saja, kami diajak masuk ke sebuah kamar besar yang nyaman dan menghadap ke bukit Pahalgam. Sangat Indah! Sesaat setelah aku duduk di atas kasur, ia datang membawakan teh hangat untuk kami. Bahkan sebelum teh yang disajikannya habis, ia sudah datang lagi membawakan chai dan biskuit. Keramahan dan pelayanan lelaki satu ini membuatku serasa menjadi seorang raja.




Kami bertiga akhirnya duduk bersama untuk berbagi cerita. Ia menceritakan banyak hal tentang Pahalgam dan Kashmir. Hingga tak terasa satu jam kami lalui bersama. Selanjutnya ia meminta izin untuk pergi ke bawah, dan tak lama ia datang lagi membawa nasi lengkap dengan chicken curry buatannya sendiri untuk kami. Melalui pembicaraan kami, ternyata ia ke bawah tadi untuk memasak chicken curry dengan tangannya sendiri. Masya Allah... kebaikan ini rasanya membuatku melihatnya sebagai malaikat berwujud manusia. Tak henti-hentinya ia memberikan pelayanan terbaiknya meski tanpa kami minta. Dan aku berpikir, kebaikan seperti inilah yang tak bisa dinilai dengan uang.

Di malam hari, kami menikmati makan malam bertiga layaknya makan malam keluarga, padahal ia orang yang baru aja aku kenal. Makanan racikan orang Kashmir memang selalu saja enak. Bahkan, aku yang tidak bisa makan banyak pun ikut menambah porsi makan gara-gara ketagihan masakannya.
Selepas makan malam, kami melanjutkan obrolan. Di akhir pembicaraan kami, sang pemilik vila memintaku untuk segera tidur supaya keesokan hari tidak bangun terlambat. Ia pun menyampaikan telah menyiapkan kuda beserta guide-nya untuk mengantarkanku berkeliling Pahalgam. Oh, betapa beruntungnya aku!!

Aku bangun pagi sekali. Namun lagi-lagi kebaikan sudah menyapaku. Chai dan roti chapatti untuk menu sarapanku ternyata sudah hadir terlebih dahulu. Begitupun dengan kuda dan guide-nya. Mereka telah menungguku di depan vila. Luar biasa!

Setelah menyelesaikan sarapan, aku memulai petualanganku di Pahalgam. Kami berjalan menyusuri jembatan dengan kejernihan sungai yang mengalir di bawahnya. Lalu beranjak naik mendaki perbukitan hingga mencapai pemberhentian awal di Kashmir Valley. Dari atas sana aku bisa lihat jelas desa Pahalgam yang indah, tak ketinggalan, aku menyempatkan diri untuk berfoto di atas kuda dengan latar Kashmir Valley.

Setelah jauh perjalanan, mulai terselip rasa heran dalam hatiku. Guide yang menemaniku ternyata sangat kuat berjalan. Sehari sebelumnya, sekadar tiga puluh menit berjalan saja aku sudah merasa sangat letih, namun ia begitu terlihat mudah mendaki perbukitan di Pahalgam ini.

Begitu juga dengan kudanya, medan seterjal itu ia lalui dengan lincahnya tanpa kendala. Justru aku yang merasa panik melihat terjalnya medan jalan yang harus dilalui.



Selanjutnya kami berjalan mendaki bukit. Melewati hutan pinus dengan dedaunannya yang keputihan dihias salju. Naik dan naik terus, hingga akhirnya kami sampai pada sebuah tempat yang dinamakan Mini Switzerland. Sebuah padang rumput dengan hutan pinusnya yang sangat luas dan indah berlatar pegunungan Himalaya yang ditutupi salju. Wow… sangat menakjubkan! Nyaris seperti pemandangan yang kulihat di sekuel film Harry Potter!

Turun dari kuda aku menikmati hijaunya pemandangan di sini. Menyempatkan diri berfoto sebentar lalu mampir ke warung di dekat parkiran kuda untuk minum kopi. Sebuah pemandangan indah lainnya yang disuguhkan oleh desa Pahalgam. Kalau sebelumnya di Gulmarg semua putih oleh salju, hari ini semua hijau oleh rumput dan pepohonan. Ahhh… sungguh Kashmir adalah surga dunia.
Setelah puas di Mini Switzerland, aku lanjut berkuda mengitari bukit Pahalgam dan berhenti di Pahalgam Valley. Padang rumput luas dengan bebatuan yang indah serta sebuah sungai kecil yang membelah di tengahnya membuat kesan tersendiri dalam pandanganku. Aku berhenti sejenak untuk melepas penat. Kulihat juga kuda yang kutunggangi puas makan rumput yang terhampar di Pahalgam Valley.





Kembali aku melihat muka sang guide. Tak ada letih yang terpancar meski pendakian sudah ditempuh sekitar empat jam lamanya. Salut! Jam menunjuk pukul tiga sore dan aku meminta pada sang guide untuk kembali, karena kendaraan umum ke Srinagar akan berangkat pada jam lima sore.
Pukul 3.30 aku sampai di pasar Pahalgam. Shakeel bersama temannya sudah menunggu untuk makan siang. Sebelum berpisah, aku ucapkan terima kasih kepada sang guide atas jasanya mengantarku menikmati “surga dunia”. Jasa yang besar, sehingga aku bisa mendapatkan sensasi keindahan pemandangan Pahalgam dengan berkuda hampir seharian.

Kami pun langsung menuju restoran dan memesan chicken curry. Rasa lapar yang kami rasakan membuat makanan yang disajikan dalam porsi jumbo itu habis tak lebih dari 15 menit saja hahaha...
Usai makan, aku langsung berpamitan kepada temannya Shakeel. Tibalah kebingungan melandaku, berapa uang yang harus kuberikan atas jasa dan fasilitas yang diberikannya itu?

Aku meminta Shakeel untuk bertanya kepada temannya. Sungguh sebuah jawaban yang mencengangkan aku terima. Dia tidak mau menerima uang. Semuanya gratis! What?!

Setelah servis yang begitu hebatnya kepadaku dan Shakeel, tidak mungkin aku tidak memberi uang sedikitpun kepadanya. Akhirnya dari pada ia tidak mau menerima uangku, aku titipkan satu lembar pecahan 1000 rupees kepada Shakeel dan memintanya untuk menyelipkan di kantong sang pemilik vila.

Saat sang pemilik vila lengah, Shakeel langsung menyelipkan uang tadi, meski nilainya tak seberapa dibandingkan dengan jasa dan kebaikannya kepada kami. Saat ia sadar kalau kami selipkan uang, kami langsung kabur naik Jeep hehehe…



Thanks a lot for being our angel, Sir. We will miss you and will be back soon!